Perpisahan, meski hanya sementara, selalu menyimpan duka. Terlebih saat perpisahan ini adalah final dan selamanya. Duka makin dalam ketika yang pergi adalah orang yang teramat dekat di hati kita.
Dan puncak perpisahan adalah kematian. Walau kita sadar bahwa semua kehidupan akan berakhir dengan kematian karena kehidupan dan kematian adalah bagian dari siklus kehidupan. Kita tidak akan pernah siap dengan perpisahan karena kematian, karena maut abadi terasa begitu mencekam.
Karena ekspektasi manusia lahir, dewasa, tua, dan wafat, saat kita kanak-kanak, kita memaklumi generasi kakek nenek kita meninggal. Saat kita beranjak dewasa, kita memaklumi generasi orang tua kita meninggal.
Namun untuk beberapa orang, siklus kehidupan kadang berakhir singkat. Dan kita tidak akan pernah siap bila generasi anak-anak kita berpulang mendahului kita.
Kemarin, kabar duka itu datang dari sahabat. Berupa pesan singkat. "James has passed away". Singkat tetapi mengejutkan. Karena 3 minggu sebelumnya, kita sempat makan malam bersama dengan keluarga mereka. Aku dan anak lanangku.
Pun seminggu sebelumnya, sepupuku memberi kabar bahwa putranya sekelas dengan James. Dan siang sebelum berita duka itu datang, ayah James masih mengatur mini reuni karena ada teman kuliah yang pulang ke Indonesia.
Mama James memakai istilah "we were caught off guard" dengan perginya James. And all of us got hit big time.
Kesedihan dan air mata yang tertumpah pun seakan bukan hanya mengiringi James, tetapi juga banyak jiwa lain yang dying young. Dan rasa duka ini seakan tak pantas dirasakan dan orang tua James jauh lebih berhak.
Tetapi saat Mama James menulis ini di WA:
"In all religion we all know about "nothing last forever" in Budhism we call ANICCA...eventhough IT HIT ME SO HARD...I learn, accept and LET HIM GOO wih ALL MY LOVE🙏🏻🙇🏻♀" I know that everything is gonna be alright...
Because to LOVE is to LET GO...
Selamat jalan, James, doa dan cinta kami mengiringi... and remember... YOU ARE LOVED... ALWAYS..
Cibubur - Jakarta - Surabaya
23-25 Juli 2018