Wednesday, February 25, 2015

Pesan Mama

Di sekolah anak-anak, komposisi suku bangsa yang ada kurang lebih demikian: 30% Jawa,  30% Batak,  20% Cina,  20% lain-lain.  Adapun komposisi berdasarkan agama adalah Katolik 50%, Kristen 40%, lain-lain 10%. Komposisi yang lebih homogen ada di kategori kelas sosial ekonomi,  yang bisa dibilang rata-rata anak orang berada. 

Sebagai mama dari anak gadis,  pastinya kita ingin anak kita mendapatkan pasangan yang sepadan..  Ya memang jauh sih  mikirnya,  anyway,  anak gadis sekarang baru kelas 7. Tapi kita gak mau anak gadis kita dekat dengan 'cowo gak benar'  bahkan selama dia masih gak ngerti apa gak benar itu.

Namun sebagai mama yang (berusaha)  open-minded dan '(lagaknya seperti)  modern,  dan supaya dilihat' manusiawi' dan 'toleransi',  serta mendukung 'kebhinnekaan',  gue selalu berusaha mencerminkan kearifan lokal.  Misalnya dengan bilang: "kamu boleh menikah dengan siapa aja yang kamu sayangi,  yang penting orang baik".

Tetapi gak semua orang tua berhasil 'menyembunyikan kekhawatiran bila anak mendapatkan jodoh yang 'berbeda' dengan yang dimaui orang tua.

Seperti cerita anak gadis,  di kelas dia,  at least ada 2 anak gadis lain,  yang mamanya sudah mewanti-wanti,  agar anak gadis nya menikah dengan orang satu suku. 

Yeah...  That sounds discriminative,  I know.  But deep down inside,  what they talk about is representing the worried mom simple solution to future uncertainty.

And guess what happened after those 'warning'?  Alih-alih anak menjauh dari orang yang satu suku,  gadis-gadis ini justru makin memperhatikan cowo-cowo ganteng yang beda suku.  Mereka justru naksir-naksiran cowo-cowo ganteng yang mati-matian dilarang mamanya.

Teori anak gadis gue adalah: since we know we're not allowed to be with those guys,  jadi sekarang saat bisa demen-demenan dan naksir-naksiran,  better be with them..  Yg anyway gak akan diperbolehkan.

Wuahhh...  Langsung gue bersyukur gue gak menekankan apa2..  At least not yet...  And may be never..  Ttg menikah satu suku,  dst...  Karena alangkah kejam bila cinta dipisahkan adat. Juga agama.  Apalagi kelas sosial.

Tapi,  yang seperti ini akan ada terus,  selama masih ada pendiskriminasian dari suku mayoritas ke suku lain.  Atau bahkan kadang antara suku-suku minoritas.

Sampai kapan?  Entah....



Vertical Movement

Gue punya satu Mbak yang sudah kerja untuk gue sejak gue hamil dengan anak pertama. Hitung-hitung, sampai kini, Mbak sudah bekerja untuk keluarga gue kurang lebih 14 tahun. Bukan waktu yang singkat. Dan bukan hal yang mudah. Terutama saat anak-anak masih kecil. Karena cara dia yang lenient dan suka memanjakan anak-anak gue to some point really gets to my nerve.

Tapi setelah sekian lama, si Mbak menjadi bagian dari kehidupan keluarga kami.  Gue jadi tahu semua latar belakang dia. Suami pertamanya saat dia dijodohkan di usia 16 tahun, yang akil balik aja belum. Kisahnya keguguran anak 2 kali. Melahirkan mati 1 kali. Melahirkan hidup 1 kali. Kemudian nasib membawanya menjadi istri ke 2 dari seorang sopir yang juga pas-pasan untuk menanggung keluarga dari istri pertamanya. Dan anak satu-satunya dari suami ke dua, yang kebetulan lahir dengan kondisi tuna rungu. Anak dari suami pertama dipelihara oleh mantan mertua, dan dipisahkan dari dia (itu another cerita drama sampai akhirnya dia bisa bertemu dengan anak kandungnya setelah sekian belas tahun).

Perjalanan hidup dia itu juga, yang membawa si Mbak untuk bekerja jauh dari anak dan suami, demi rejeki untuk membesarkan anaknya. Suatu ketika saat anaknya berusia sekolah, gue nanya, anaknya sekolah di mana. Barulah dia mengaku kalau anaknya bisu, jadi gak disekolahkan.  Karena penasaran, aku kejar terus, apakah tidak ada suara sama sekali (untuk bisu berarti ada kerusakan di pita suara). Dia bilang, bisa panggil "aah.. aah.." bila mau sesuatu.. Maka gue berkesimpulan, bahwa si anak bukannya bisu, tetapi punya masalah pendengaran. Karena tidak bisa mendengar, tidak pernah mencoba menirukan bunyi-bunyian di sekitarnya. Bisunya hanya sekunder. Setelah itu, gue bilang, anaknya harus sekolah di SLB.

Singkat cerita, anaknya sukses sekolah di SLB di kota terdekat dari kampung di Mbak. Saat ini si anak udah SMP kelas 2. Mbak punya cita-cita tinggi untuk anaknya. Karena di SLB diajarkan tata rambut dan tata busana, dia berandai-andai, suatu hari anaknya bisa bekerja di Surabaya. Mungkin punya usaha kecil-kecilan dengan ketrampilannya. Dia berharap anaknya bisa lulus SMA. Bahkan apabila mungkin kuliah. Sampai suatu malam minggu lalu. ada SMS dari kampung....

Si anak mengunci diri di kamar. Bersiap bunuh diri. Setelah sebelumnya dimarahin karena pergi ke pasar malam dengan seorang pria dan baru pulang lewat tengah malam. Pria yang baru dikenalnya sebulan lalu.

Si anak tidak mau berpisah dengan si pria. Minta kawin. Pada usia 18 tahun. Dengan pendidikan hanya SMP kelas 2. Dan prianya pun cuma lulusan SMP. Pekerja bangunan.

Dunia mimpi si Mbak langsung hancur berkeping-keping. Satu-satunya anak yang dia harapkan bisa vertical movement, naik kelas, membawa dia ke jajaran keluarga terhormat di kampungnya, nikah dengan pria yang dari kalangan sosial yang sama, yang rumahnya jauh lebih terpencil, yang bahkan hanya lulusan SMP.

Dan sekarang anaknya pun, setelah nikah siri (karena pihak pria belum mempersiapkan surat-surat untuk nikah resmi), tidak lagi meneruskan sekolahnya yang kurang beberapa bulan. Entah alasan apa. Adapun beberapa wartawan mengincar si Mbak, mengancam untuk menurunkan beritanya, Berita tentang anak gadis tuna rungu yang mau bunuh diri karena ngebet kawin dengan kekasih hatinya.

Ironis. Ironis....