Di sekolah anak-anak, komposisi suku bangsa yang ada kurang lebih demikian: 30% Jawa, 30% Batak, 20% Cina, 20% lain-lain. Adapun komposisi berdasarkan agama adalah Katolik 50%, Kristen 40%, lain-lain 10%. Komposisi yang lebih homogen ada di kategori kelas sosial ekonomi, yang bisa dibilang rata-rata anak orang berada.
Sebagai mama dari anak gadis, pastinya kita ingin anak kita mendapatkan pasangan yang sepadan.. Ya memang jauh sih mikirnya, anyway, anak gadis sekarang baru kelas 7. Tapi kita gak mau anak gadis kita dekat dengan 'cowo gak benar' bahkan selama dia masih gak ngerti apa gak benar itu.
Namun sebagai mama yang (berusaha) open-minded dan '(lagaknya seperti) modern, dan supaya dilihat' manusiawi' dan 'toleransi', serta mendukung 'kebhinnekaan', gue selalu berusaha mencerminkan kearifan lokal. Misalnya dengan bilang: "kamu boleh menikah dengan siapa aja yang kamu sayangi, yang penting orang baik".
Tetapi gak semua orang tua berhasil 'menyembunyikan kekhawatiran bila anak mendapatkan jodoh yang 'berbeda' dengan yang dimaui orang tua.
Seperti cerita anak gadis, di kelas dia, at least ada 2 anak gadis lain, yang mamanya sudah mewanti-wanti, agar anak gadis nya menikah dengan orang satu suku.
Yeah... That sounds discriminative, I know. But deep down inside, what they talk about is representing the worried mom simple solution to future uncertainty.
And guess what happened after those 'warning'? Alih-alih anak menjauh dari orang yang satu suku, gadis-gadis ini justru makin memperhatikan cowo-cowo ganteng yang beda suku. Mereka justru naksir-naksiran cowo-cowo ganteng yang mati-matian dilarang mamanya.
Teori anak gadis gue adalah: since we know we're not allowed to be with those guys, jadi sekarang saat bisa demen-demenan dan naksir-naksiran, better be with them.. Yg anyway gak akan diperbolehkan.
Wuahhh... Langsung gue bersyukur gue gak menekankan apa2.. At least not yet... And may be never.. Ttg menikah satu suku, dst... Karena alangkah kejam bila cinta dipisahkan adat. Juga agama. Apalagi kelas sosial.
Tapi, yang seperti ini akan ada terus, selama masih ada pendiskriminasian dari suku mayoritas ke suku lain. Atau bahkan kadang antara suku-suku minoritas.
Sampai kapan? Entah....
No comments:
Post a Comment