Monday, November 28, 2016

A Letter to My Daughter

Dear Adeline,

There's a proverb saying that

"A daughter will hold your hand for a little while , but will hold your heart for a lifetime"

And you couldn't believe that it's so true. Not until your heart captured by mini-me replicas in a breathing living  body.

You knew I've loved you before I met you.. and no.. this is not Savage Garden song. Although .. yeah .. I admit that I copy this line from that song.

Since the first time you were just a tiny blip inside my womb, since the first heart beat in that black USG monitor in that cold obgyn's room, I knew that you capture my heart, my mind, my life.

The day you were born, I cried my heart out. Because your detachment from my womb is predestined like ending of Holywood movie. Like a part of me is separated from my life.

Breastfeeding was a nightmare for both of us at that time. Not because we don't enjoy it. But because since our birth as female, we have to succumb to sets of value that was predetermined by society standard. How much the milk flow, became the impossible indicator of success of being a mom. And it stresses me out. Purely because I want to be the best for you. The best mom. The best caregiver. The best nursing mom.

And I knew deep down that what we've felt then is only a beginning of other sets of rules.

How people blatantly sets beauty standards to not 80% of real female, but that 1% of crafted and photoshopped image of women.

How women intelligence is considered intimidating. And what kind of dress they wear will determine their value.

You will be flooded with false attention of boys with their hormones, and some of other females are bickering over a boy like hens over cock. And you will be faced with other mother values that the success of a women is based on how rich she can get a husband. Even if it is second wife or even just a mistress.

You will face opinions that women's place is in the kitchen. And never outside the house. That women's is at her best when she give up her dreams for a greater good of men's dream.

But NO... I will not raise you to be such a woman. I will raise you to be smart yet humble, knowledgable yet grounded, independent yet kind, reflective and internalized many things without boasting.

And there will be time where you will go out there and spread your wings, and leave this tiny nest, face the world alone without being lonely. And I will not try to keep you in my nest, because when the time comes, the world will be your huge nest, and all human will be your brothers and sisters. I will train to make your wings strong enough for the fiercest wind.

At the same time I will train my heart to willingly seeing your back while you face the wide world and catch the wind that leads to your dream...

Because loving someone is setting her free...

Happy 15th Birthday, dear Adeline...
You will always be in my prayer, and forever in my heart as my little brave but kepo princess.

Friday, September 30, 2016

Mama Go Blog Strikes Back

Udah lama banget gue gak update blog ini sejak anak gadis nangis diolok2 temen-temennya di sekolah. Nangis karena dibilang Mama Goblog.. well mereka salah sih... harusnya "Mama Go Blog: bukan "Mama Goblog"... tapi you cannot expect orang goblog untuk tau bedanya antara dua hal tersebut kan?


Well... sometimes parenting is a unique thing... dan anak-anak berkembang terus seiring dengan bertambahnya usia.

Seperti juga anak gadis sekarang lebih tenang dengan blog ini... walaupun ... tetep... foto-foto yang diupload di socmed harus sudah pre-approved... karena takut foto-foto aib tersebar (mungkin just in case suatu hari dia jadi President biar gak bisa jadi kampanye negatif).

On the other hand, gue tau, dia dan teman-teman aibnya, justru membuat alter account di socmed yang isinya aib semua... (paradox atau munafik?)

Ya, gitu deh... welcome to 2nd wave of Mama Go Blog dan selamat membaca kegoblokan keluarga ini...


Ditembak

Belakangan anak gadis gue ada tanda-tanda keanehan yang menjurus ke bau cowo.  Dia jadi sering mematut-matut diri di depan kaca.  Dua kali ke tangkap melakukan monolog di depan kaca juga.  Mengurung diri di dalam kamar dengan alasan ngantuk,  tapi saat disamperin ternyata lagi ngeLine  sama temennya.

Selain itu,  dari penampilan pun,  dia mulai memilih dan meminta beli baju yang lebih modis walaupun masih casual.  Rambut yang dihebohkan karena menurut dia,  gak panjang-panjang.  Juga sepatu casual baru (belum keturutan).

Puncak keanehan adalah kehebohan saat siswa SMA mengadakan malam pentas yang namanya Casthrophy, puncak dari rangkaian acara BHK Open House.  Acara tersebut menampilkan Raisa,  Tulus dan Souljah.

Di acara tersebut,  dia jauh-jauh hari sudah ancang-ancang untuk datang dan membeli tiket earlybird Rp.  40.000,- (harga normal on the spot Rp.  50.000,-). Dan waktu gue nanya boleh gak Mommy ikut,  jawabannya tegas dan jelas.  "Gak,  Mommy gak boleh ikut.  Aku mau sama teman-teman.  Nanti kalo ada Mommy jadi garing" #nangis *sakitnya tuh disini *

Hari H, pukul 17:00, dia udah heboh, minta segera diantar. Memang sih, di baliho raksasa tertulis Gate opens: 16:00. Tapi Raisanya itu paling cepat juga 19:00. Lah belom Tulus-nya. Mana minta dijemput jam 23:00 pula. Berarti akan 6 jam alias 360 menit dia berdiri di lapangan. Padahal dia berdiri bentar aja biasanya udah ngomel.  Tapi demi janji, gue anter juga jam segitu.

Ternyata........................................................................................................................................... Besoknya, di ask.fm dia tersebar kabar kalo dia 'jadian'. "ditembak" di acara Jumat malam tersebut. Di depan semua teman-temannya. Sambil dipeluk sama cowo itu.



Sebagai mama yang merasa anaknya masih kecil, dunia serasa runtuh......................... Apalagi bila lihat jawaban dia atas congratulations yang diucapkan teman-temannya.... dan betapa bangganya dia diberi nickname 'marmut' sama si cowo.....................................................................................................


Malam itu.... gue tidur dengan dada sesak. Mau nangis, kok... apa yang mau ditangisi.... Mau bahagia buat dia... kok gak yakin cowonya akan ini terus selamanya, atau akanlah dia disakiti atau dikecewakan? ... Benar-benar mewek ....

Tapi seperti Khalil Gibran pernah menulis:
"Ketika cinta memanggilmu, maka dekatilah ia, walaupun jalannya berliku-liku.
Ketika cinta memelukmu, maka dekapilah ia, walaupun pedang di sela-sela sayapnya melukaimu"

Occupation: Mother

Seorang wanita selalu punya status berbeda-beda dalam tiap aspek kehidupannya. Di ranah personal ebagai seorang putri, kakak/adik, kekasih, istri, ibu, menantu, mertua. Belum lagi secara peofesional, seorang karyawan, wirausaha, dst.
Ada status yang bisa berubah-ubah. Misanya hari ini staff, besok manajer, lusa direktur. Tetapi ada pula yang melekat untuk waktu lama. Salah satunya adalah menjadi seorang ibu.
Bila suatu saat kalian melihatku sebagai seorang manager, yang membawahi puluhan anak buah , dan seorang semi-wiraswasta-wati yang tangguh, ingatlah pula, aku pun berpeluh mengandung anak-anakku, menahan kantuk menyusui buah hatiku, menunduk memakaikan mereka sepatu.
Dan ingatlah, pada saat mereka sakit, akulah yang memapah mereka, menyuapi mereka, dan membereskan sisa kencing / muntah mereka.
Karena pekerjaan sebagai ibu, adalah status abadi.
Being a daughter gives me strength. Being a mom gives me courage. ~ not quite Sun Tzu

Thursday, January 7, 2016

Merayakan Kegagalan

It's easy to celebrate success... but have you tried to celebrate failure?

Di dunia yang menuntut orang untuk serba sukses sekaligus serba instant, yang banyak muncul akhirnya adalah kecurangan dan jalan pintas, karena banyak orang yang merasa bahwa hanya kesuksesan yang patut dirayakan, Adapun kegagalan sudah selayaknya disembunyikan dan dikubur jauh-jauh bagaikan aib. Kalo perlu, orang yang gagal dicoret dari Kartu Keluarga.. (nah... I was just exaggerating).

Berapa banyak mama-mama yang posting "kesuksesan" anaknya di social media. Hehehe... Adeline used to call those moms mama-mama alay. But as a mom, I can understand perfectly the pride and joy and the sweet smell of success yang membuat kita melambung, walaupun memang bukan kita yang berprestasi. Kadang prestasinya pun very mediocre. But still, success is success, achievement is achievement is achievement.

On the other hand.... berapa banyak anak yang tertekan di rumah karena mamanya gila sukses. Dan karena mamanya juga mediocre dan tidak punya prestasi apa-apa, maka semua keinginan untuk sukses dan pressure ini ditimpakan ke anak-anaknya. Masih untung kalo anak-anaknya sama berambisi dan bisa dipoles untuk berprestasi. Tapi kalau tidak? 

Berapa banyak anak yang bahagia dengan hanya menjadi 'biasa-biasa saja'? Banyakkkk... Jauh lebih banyak daripada anak-anak yang berambisi menguasai dunia.  Kalau di dunia ini ada 100% anak, yang bisa jadi juara mungkin cuma 1% populasi. Yang berambisi mungkin 10% populasi. 90% nya cukup bahagia menjadi apa adanya dia dan sibuk bermain-main dengan masa kecilnya. 

Bila si anak dipaksa untuk menjadi ambisius, atau didorong dengan latihan super intensif, bisa gila atau minimal burnt out. Berapa banyak mama yang supposedly melindungi dan mengarahkan anak, di rumah berubah menjadi monster yang merenggut waktu  bermain anak? Berapa banyak yang merendahkan anak atas kegagalannya, dan (lebih pedih lagi) membandingkan kesuksesan kakak/adiknya, saudara sepupunya, anak teman baik mamanya, tetangganya, dan seterusnya. 

Dalam kondisi normal, saat anak-anak gagal, sebagai ibu ikut merasakan sedih dan perih, ngilu di hati. Tapi dalam kondisi gak normal... sudahlah gagal, kena marah pula. Suwek banget dah.... 

Maka, saran saya.... marilah kita coba merayakan kegagalan... Bukan untuk glorifying kegagalan, tetapi menunjukkan ke mereka, kegagalan bukan lah akhir segalanya. Masih ada hari esok, kesempatan lain, dst. Bahwa kegagalan adalah awal keberhasilan. Toh mereka masih muda (masih kecil malah).  Tugas kita adalah menemukan dimana kekuatan mereka (istilah konsultannya melakukan SWOT - Strength Weakness Opportunity and Threat - analysis).

Anyway, bukankah pengalaman adalah guru yang terbaik?