Thursday, January 7, 2016

Merayakan Kegagalan

It's easy to celebrate success... but have you tried to celebrate failure?

Di dunia yang menuntut orang untuk serba sukses sekaligus serba instant, yang banyak muncul akhirnya adalah kecurangan dan jalan pintas, karena banyak orang yang merasa bahwa hanya kesuksesan yang patut dirayakan, Adapun kegagalan sudah selayaknya disembunyikan dan dikubur jauh-jauh bagaikan aib. Kalo perlu, orang yang gagal dicoret dari Kartu Keluarga.. (nah... I was just exaggerating).

Berapa banyak mama-mama yang posting "kesuksesan" anaknya di social media. Hehehe... Adeline used to call those moms mama-mama alay. But as a mom, I can understand perfectly the pride and joy and the sweet smell of success yang membuat kita melambung, walaupun memang bukan kita yang berprestasi. Kadang prestasinya pun very mediocre. But still, success is success, achievement is achievement is achievement.

On the other hand.... berapa banyak anak yang tertekan di rumah karena mamanya gila sukses. Dan karena mamanya juga mediocre dan tidak punya prestasi apa-apa, maka semua keinginan untuk sukses dan pressure ini ditimpakan ke anak-anaknya. Masih untung kalo anak-anaknya sama berambisi dan bisa dipoles untuk berprestasi. Tapi kalau tidak? 

Berapa banyak anak yang bahagia dengan hanya menjadi 'biasa-biasa saja'? Banyakkkk... Jauh lebih banyak daripada anak-anak yang berambisi menguasai dunia.  Kalau di dunia ini ada 100% anak, yang bisa jadi juara mungkin cuma 1% populasi. Yang berambisi mungkin 10% populasi. 90% nya cukup bahagia menjadi apa adanya dia dan sibuk bermain-main dengan masa kecilnya. 

Bila si anak dipaksa untuk menjadi ambisius, atau didorong dengan latihan super intensif, bisa gila atau minimal burnt out. Berapa banyak mama yang supposedly melindungi dan mengarahkan anak, di rumah berubah menjadi monster yang merenggut waktu  bermain anak? Berapa banyak yang merendahkan anak atas kegagalannya, dan (lebih pedih lagi) membandingkan kesuksesan kakak/adiknya, saudara sepupunya, anak teman baik mamanya, tetangganya, dan seterusnya. 

Dalam kondisi normal, saat anak-anak gagal, sebagai ibu ikut merasakan sedih dan perih, ngilu di hati. Tapi dalam kondisi gak normal... sudahlah gagal, kena marah pula. Suwek banget dah.... 

Maka, saran saya.... marilah kita coba merayakan kegagalan... Bukan untuk glorifying kegagalan, tetapi menunjukkan ke mereka, kegagalan bukan lah akhir segalanya. Masih ada hari esok, kesempatan lain, dst. Bahwa kegagalan adalah awal keberhasilan. Toh mereka masih muda (masih kecil malah).  Tugas kita adalah menemukan dimana kekuatan mereka (istilah konsultannya melakukan SWOT - Strength Weakness Opportunity and Threat - analysis).

Anyway, bukankah pengalaman adalah guru yang terbaik? 


2 comments:

  1. Jadi penasaran dunia para ibu di medsos. Penasaran sama cara ibu menyampaikan post "kesuksesan" anak-anaknya di medsos.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sorry, commentnya gak kebaca sampe lama... :D

      misalnya nih... oh anak gue manggung di wherever... Thank God anak gue juara 1 di kelas. Makasih ya Abang, bikin mama bangga, lengkap dengan foto nilai rapornya. Atau anak gue yang baru usia segini udah bisa sekian bahasa, termasuk bahasa qalbu dan bahasa cinta... misalnyaaaaa

      Delete