Di satu ekstrim adalah ibu-ibu yang 100% menjadi wanita karir, tidak mengurus rumah tangga sama sekali (dalam arti tidak masak, tidak membersihkan rumah, tidak mengasuh anak -- yang di banyak keluarga sudah dilakukan walaupun mamanya gak bekerja -- karena kita sudah begitu nyaman dengan asisten rumah tangga) . Di ekstrim lain adalah ibu-ibu yang melulu di rumah, bersama-sama dengan anaknya, mengantar jemput, menunggu di les, membuat PR bersama (kadang bahkan membuatkan PR anak-anaknya dan membereskan tas anak-anaknya).
BUT mostly.... most of the people that I know is neither on both extreemes... OK, with the exception 1 mama yang masih menyuapin anaknya yang sudah SMP Kelas 2 dari balik pagar sekolahan (oh, well).
Jadi ingat lagu Chicago... "Even lovers need sometime away, a holiday, from each other"
Lah lover aja (yang notabene sudah mengalami persatuan jiwa, raga, dan mengalami transendental spiritual melalui puncak-puncak kenikmatan bersama) butuh holiday , a break, sometime away. Lovers aja yang berjanji setia dalam untung dan malang, kalo eek juga butuh sendiri-sendiri, walaupun kalo mandi bisa barengan (#opowae) . Apalagi mama dan anak (yo po ra?)
Menurut gue sih, mama butuh waktu terpisah dari anaknya (biasanya sekarang disebut Me-time) untuk menjadi diri sendiri , menjadi Sienny, bukan lagi Mama Adeline, Mama Jonathan, Mama Gregory. Atau Istri Julian. Anak juga butuh waktu terpisah dari orang tuanya, untuk menjadi (dan mencari jati) diri sendiri. Menjadi Adeline, Jonathan, Gregory. Bukan anak Sienny, anak Mommy, atau kakak Jonathan, kakak Gregory, adik Adeline, Adik Jonathan.
And I so hate when people look at me as if I haven't done a good job being a mom. Of course I must admit, gue bukan mama yang paling sempurna. But at least anak-anak gue mandiri dengan nilai mereka, mandiri dengan proses belajar mereka, mandiri dalam proses pertemanan mereka. As my friend puts it beautilfully, the objective of any parents is to make themselves obsolete.
Gue juga kadang kangen bisa "gak ngapa2in" cuma baring-baringan dan peluk-pelukan sepanjang hari dan lunch out dengan anak-anak. Tapi kan gue juga butuh duit buat ngajak mereka lunch out. Atau beli bahan buat bikin Nutella Quessadilas dengan mereka (yang mereka suka banget).
Gue juga merasa, anak-anak butuh juga waktu belajar sendiri. Main bola dengan tetangga di lapangan depan rumah. Memperoleh self esteemnya sendiri. Melakukan percobaan-percobaan fisika konyol, atau sekedar mager di dalam kamar menonton youtube.
Semua proses itu, akan membuat mereka menjadi manusia seutuhnya. Bukan robot-robot. Bukan jiwa-jiwa terkekang. Karena kita bisa memenjarakan tubuhnya, tapi bukan pikirannya. Seperti sajak Khalil Gibran ini:
Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.
Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.
Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.
Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.
anak panah hidup, melesat pergi.
Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.
Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.
No comments:
Post a Comment