Thursday, October 19, 2017

Malaikat Tanpa Sayap


Jakarta yang diguyur hujan nyaris tiap hari menyisakan genangan, macet, dan satu kisah tentang malaikat tanpa sayap.

Kemarin sore, suami sudah menanyakan ke anak gadis, kira2 pulang jam berapa. Saat itu jam mendekati 16.00 dan dia bilang masih di area sekolah karena mengikuti persiapan Defile. 

Sampai 17.00 komunikasi anak gadis menyatakan dia masih di sekolah dan 'Daddy duluan aja' karena sang ayah ada appointment di RS Mitra Keluarga.

Karena aku posisi lagi di Surabaya meeting, maka yang bisa aku lakukan hanya melihat message berseliweran di group Line keluarga. Pasrah. Walaupun sambil deg2an karena semua tetangga mengatakan macet gila2an dari Jakarta menuju ke rumah.

Sampai 18.00 dia bilang belom mendapar Go Car karena selain jadi mahal (biasa 80rb jadi 200rb), juga karena hujan, gak ada pengemudi yang bersedia mengangkut mereka. Sampai 18.30 kondisi masih sama.

Malam merayap makin gelap, anak gadis sekolah jauh, baik GoCar maupun GrabCar belom ada tanda2 muncul. Taksi konvensional apa lagi.

Sampai akhirnya aku berkeluh kesah di group ibu2 lingkungan, bahwa anak gadis masih stranded di sekolah.

Serta merta ada salah satu ibu muda yang menyatakan, "Saya kena macet di Antasari. Aku belok deh, ke Pejaten. Menurut waze 20 menit lagi sampai."

Singkat cerita, jam 19.00, ibu muda tersebut mengangkut anak gadis beserta teman2nya, total 4 anak SMA. Saat itulah aku yakin, bahwa Tuhan menurunkan banyak sekali Malaikat Tanpa Sayapnya di dunia ini. Yang memberi bantuan tanpa meminta balas.

Semoga Tuhan menjaga malaikat2 tanpa sayap ini, dan kita pun suatu hari dimampukan untuk menjadi malaikat tanpa sayap, walau tanpa menyadari bahwa kita malaikat.

18 Oktober 2017

No comments:

Post a Comment