Orang Indonesia senang berseragam. Mungkin karena pengaruh kuatnya militer dalam 32 tahun berkuasanya Babe yang berlatar belakang militer. Bahkan Babe yang sebelumnya juga suka pake seragam pemimpin besar revolusi (whatever it means). Mungkin seragam berasa keren, authoritative, powerful.
Selain di militer, masalah seragam ini merambah kemana-mana: Korpri, DharmaWanita, Jalasenastri, hingga Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu. Kadang utk tugas Gereja aja, kita merasa butuh seragam.
Apalagi di sekolah, dimana pemerintah menganggap pelajar itu tanah liat homogen yg siap "dicetak" sesuai brainwash atau kurikulum tertentu. Harus donk, berseragam. Masa nggak? Dari playgroup (bahkan pra-playgroup) anak harus berseragam. Sampai SMA.
Gue bukan anti-seragam. Justru gue seneng dengan seragam. Antara lain karena gue jarang keliatan pantes pake baju apapun. Jadi, karena gue gak bisa kelihatan cakep, gue harus bikin supaya temen-temen gue kelihatan jelek. Solusinya: PAKE SERAGAM!!! HUAHAHAHAHAHAHAHAHA #evillaugh.
Selain itu, pake seragam menahan sifat jor-joran alias gak mau kalah dari orang2 Indonesia. Supaya jurang kelas sosial di sekolah diminimalisir.
Untuk itu, gue menghimbau, supaya seragam pelajar kita hingga SMA, seyogyanya seculun mungkin. Terutama seragam putri.
Bukan! Gue bukan jahat walaupun sedikit sirik. Tapi gue yakin, seragam culun akan menjauhkan predator-pedofil dari siswi-siswi sampai mereka tamat SMA (ingat kasus JIS) . Hal ini termasuk (dan tidak terbatas pada) panjang seragam sebetis, kemeja gombrong lengan se-siku. Dibikin seaneh dan se-awkward mungkin.
Untuk gesture, diajarkan selfie dan berhadapan dengan lawan jenis dg wajah somber dan poker face, yang membuat kesan judes dan buas.
Sehingga hasilnya adalah foto dibawah ini, males kan ke siswi di gambar kiri? You got my point.
*ide goblog mama goblog yang go blog, dalam rangka melindungi putrinya yang beranjak remaja

