Friday, September 12, 2014

Nasionalisme Sempit

Minggu lalu,  ada kabar bahwa ada pemilihan Ketua Lingkungan baru yang masa tugasnya tiap 3 tahun di Paroki kita.  Dan bersamaan dg kabar itu,  ada kabar juga bahwa suami menjadi salah satu kandidat.
Walaupun awalnya menolak karena keterbatasan waktu,  tetapi surat suara sudah dicetak.  Satu keluarga satu suara. Dan saat itupun Jonathan sudah berwacana agar kita memilih Daddy mereka dalam pemungutan suara.  (dan pastinya kita tidak akan seedan itu,  secara kita masih orang timur yang penuh sopan santun dan unggah-ungguh,  sekaligus berusaha menghindar dari community service supaya masih punya waktu utk nulis blog,  jalan-jalan ke mall,  dan tidur-tiduran)
Begitu diumumkan bahwa Daddy nya terpilih aklamasi jadi ketua lingkungan yang baru,  Jonathan langsung nyeletuk: "Aku nanti bilang ke Theresa (anak ketua lingkungan yang sekarang),  weee  papamu kalah sama papaku,  weee...  Papamu gak kepilih lagi"
#tepokjidat
Ucapan ini ternyata disambut bahagia oleh Adeline (adelslifejournal.blogspot.com) dengan semangat 45, berteriak-teriak : "Ya,  setuju itu,  kita Nasionalisme sempit"
Kemudian gue nanya: "Apa itu nasionalisme sempit?",  Adeline menjawab: "Nasionalisme sempit itu bangga Daddy nya menang dan membenci daddy-daddy yang lain.  Horeee!!!"
#tepokjidatlagi

No comments:

Post a Comment