Wednesday, September 16, 2015

Wanita Karir

Gue benci dikotomi Wanita Karir dan Ibu Rumah Tangga.  Benci karena wanita kemudian ditempatkan di kutub yang berbeda, seakan-akan hidup ini hanya ada bipolar, 2 kutub.  Padahal sesungguhnya kiprah wanita dalam hidup ini bagaikan spektrum.

Di satu ekstrim adalah ibu-ibu yang 100% menjadi wanita karir, tidak mengurus rumah tangga sama sekali (dalam arti tidak masak, tidak membersihkan rumah, tidak mengasuh anak -- yang di banyak keluarga sudah dilakukan walaupun mamanya gak bekerja -- karena kita sudah begitu nyaman dengan asisten rumah tangga) . Di ekstrim lain adalah ibu-ibu yang melulu di rumah, bersama-sama dengan anaknya, mengantar jemput, menunggu di les, membuat PR bersama (kadang bahkan membuatkan PR anak-anaknya dan membereskan tas anak-anaknya).

BUT mostly.... most of the people that I know is neither on both extreemes... OK, with the exception 1 mama yang masih menyuapin anaknya yang sudah SMP Kelas 2 dari balik pagar sekolahan (oh, well).


Jadi ingat lagu Chicago... "Even lovers need sometime away, a holiday, from each other"

Lah lover aja (yang notabene sudah mengalami persatuan jiwa, raga, dan mengalami transendental spiritual melalui puncak-puncak kenikmatan bersama) butuh holiday , a break, sometime away.  Lovers aja yang berjanji setia dalam untung dan malang, kalo eek juga butuh sendiri-sendiri, walaupun kalo mandi bisa barengan (#opowae) . Apalagi mama dan anak (yo po ra?)


Menurut gue sih, mama butuh waktu terpisah dari anaknya (biasanya sekarang disebut Me-time) untuk menjadi diri sendiri , menjadi Sienny, bukan lagi Mama Adeline, Mama Jonathan, Mama Gregory. Atau Istri Julian.  Anak juga butuh waktu terpisah dari orang tuanya, untuk menjadi (dan mencari jati) diri sendiri. Menjadi Adeline, Jonathan, Gregory. Bukan anak Sienny, anak Mommy, atau kakak Jonathan, kakak Gregory, adik Adeline, Adik Jonathan.

And I so hate when people look at me as if I haven't done a good job being a mom. Of course I must admit, gue bukan mama yang paling sempurna. But at least anak-anak gue mandiri dengan nilai mereka, mandiri dengan proses belajar mereka, mandiri dalam proses pertemanan mereka. As my friend puts it beautilfully, the objective of any parents is to make themselves obsolete.

Gue juga kadang kangen bisa "gak ngapa2in" cuma baring-baringan dan peluk-pelukan sepanjang hari dan lunch out dengan anak-anak. Tapi kan gue juga butuh duit buat ngajak mereka lunch out. Atau beli bahan buat bikin Nutella Quessadilas dengan mereka (yang mereka suka banget).

Gue juga merasa, anak-anak butuh juga waktu belajar sendiri. Main bola dengan tetangga di lapangan depan rumah. Memperoleh self esteemnya sendiri. Melakukan percobaan-percobaan fisika konyol, atau sekedar mager di dalam kamar menonton youtube.

Semua proses itu, akan membuat mereka menjadi manusia seutuhnya. Bukan robot-robot. Bukan jiwa-jiwa terkekang. Karena kita bisa memenjarakan tubuhnya, tapi bukan pikirannya.  Seperti sajak Khalil Gibran ini:


Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.
Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.
Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.



Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.
Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.
Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.

Friday, August 21, 2015

Indah pada WaktuNya

Saat anak masih kecil,  mereka cenderung individualis dan hanya nyaman dengan anggota keluarga saja. 
Masuk SMP,  menjelang remaja,  mereka mulai menjadi lebih sosialis (pardon the vocabulary),  dan lebih banyak bergaul (dan dipengaruhi)  oleh lingkungan.  Teman-temannya,  buku (dan blog) yang ia baca.  Film,  kejadian,  youtube yang ia tonton.
Selain itu,  juga ada interest,  keinginan dan ambisi,  yang mungkin berbeda dari jaman dia SD dulu.
Ada satu ambisi dari anak gadis sejak mulai kelas 7, yaitu menjadi jajaran pengurus OSIS.  Dan tahun lalu, dia gagal lolos seleksi.
Dalam kegagalannya itu,  dia tetap menjadi pengamat interaksi antar anggota organisasi. Saat ada konflik,  dia selalu membahas who did what and why and how it could've been better.
Tahun ini,  di awal kelas 8, dia sekali lagi mendaftar seleksi anggota pengurus OSIS.  Dan tahun ini,  karena seleksinya berbeda cara,  maka dia lolos seleksi.
Bila mama lain mungkin marah/kesal bila anaknya gagal seleksi sampai melabrak guru (amit-amit dah)..  Gue justru suka dengan failure dia di awal. 
Bukan berarti gue mama sadis yang suka lihat anak sendiri gagal loh ya.  Tapi gue memikirkan,  selama setahun ini,  dia dipersiapkan Tuhan untuk menjadi pemimpin.  Setahun dia dikenalkan dengan kegagalan supaya tidak tinggi hati.  Setahun dia tidak menjadi pengurus OSIS untuk mengamati secara obyektif permasalahan remaja.  Dan setahun happy gak jelas dengan teman-temannya.
Good luck ya,  Adeline.  I'm so proud of you. I love you.
22 Agustus 2015

Monday, August 17, 2015

Rejected

There's nothing more painful than being rejected by your own child(ren).  These small beings that used to depend on you on every little steps that they do.
The very people whose eyes used to light up everytime they met your gaze,  now seeing you as if you're a ghost from the past.  Shuddering their shoulder at your presence as if you were the intruder to their happy existence.
May be it's the hormones,  I reason.  May be she wasn't feeling well and didn't behave as herself.
But rejection is rejection,  nonetheless.  You can almost feel the sigh of relief as you walk out their door,  out of their life.
Now I understand why some mom felt let down by the kids.  We expect things to stay the same,  but it changes. They expect us to change,  but we stayed the same.

Wednesday, February 25, 2015

Pesan Mama

Di sekolah anak-anak, komposisi suku bangsa yang ada kurang lebih demikian: 30% Jawa,  30% Batak,  20% Cina,  20% lain-lain.  Adapun komposisi berdasarkan agama adalah Katolik 50%, Kristen 40%, lain-lain 10%. Komposisi yang lebih homogen ada di kategori kelas sosial ekonomi,  yang bisa dibilang rata-rata anak orang berada. 

Sebagai mama dari anak gadis,  pastinya kita ingin anak kita mendapatkan pasangan yang sepadan..  Ya memang jauh sih  mikirnya,  anyway,  anak gadis sekarang baru kelas 7. Tapi kita gak mau anak gadis kita dekat dengan 'cowo gak benar'  bahkan selama dia masih gak ngerti apa gak benar itu.

Namun sebagai mama yang (berusaha)  open-minded dan '(lagaknya seperti)  modern,  dan supaya dilihat' manusiawi' dan 'toleransi',  serta mendukung 'kebhinnekaan',  gue selalu berusaha mencerminkan kearifan lokal.  Misalnya dengan bilang: "kamu boleh menikah dengan siapa aja yang kamu sayangi,  yang penting orang baik".

Tetapi gak semua orang tua berhasil 'menyembunyikan kekhawatiran bila anak mendapatkan jodoh yang 'berbeda' dengan yang dimaui orang tua.

Seperti cerita anak gadis,  di kelas dia,  at least ada 2 anak gadis lain,  yang mamanya sudah mewanti-wanti,  agar anak gadis nya menikah dengan orang satu suku. 

Yeah...  That sounds discriminative,  I know.  But deep down inside,  what they talk about is representing the worried mom simple solution to future uncertainty.

And guess what happened after those 'warning'?  Alih-alih anak menjauh dari orang yang satu suku,  gadis-gadis ini justru makin memperhatikan cowo-cowo ganteng yang beda suku.  Mereka justru naksir-naksiran cowo-cowo ganteng yang mati-matian dilarang mamanya.

Teori anak gadis gue adalah: since we know we're not allowed to be with those guys,  jadi sekarang saat bisa demen-demenan dan naksir-naksiran,  better be with them..  Yg anyway gak akan diperbolehkan.

Wuahhh...  Langsung gue bersyukur gue gak menekankan apa2..  At least not yet...  And may be never..  Ttg menikah satu suku,  dst...  Karena alangkah kejam bila cinta dipisahkan adat. Juga agama.  Apalagi kelas sosial.

Tapi,  yang seperti ini akan ada terus,  selama masih ada pendiskriminasian dari suku mayoritas ke suku lain.  Atau bahkan kadang antara suku-suku minoritas.

Sampai kapan?  Entah....



Vertical Movement

Gue punya satu Mbak yang sudah kerja untuk gue sejak gue hamil dengan anak pertama. Hitung-hitung, sampai kini, Mbak sudah bekerja untuk keluarga gue kurang lebih 14 tahun. Bukan waktu yang singkat. Dan bukan hal yang mudah. Terutama saat anak-anak masih kecil. Karena cara dia yang lenient dan suka memanjakan anak-anak gue to some point really gets to my nerve.

Tapi setelah sekian lama, si Mbak menjadi bagian dari kehidupan keluarga kami.  Gue jadi tahu semua latar belakang dia. Suami pertamanya saat dia dijodohkan di usia 16 tahun, yang akil balik aja belum. Kisahnya keguguran anak 2 kali. Melahirkan mati 1 kali. Melahirkan hidup 1 kali. Kemudian nasib membawanya menjadi istri ke 2 dari seorang sopir yang juga pas-pasan untuk menanggung keluarga dari istri pertamanya. Dan anak satu-satunya dari suami ke dua, yang kebetulan lahir dengan kondisi tuna rungu. Anak dari suami pertama dipelihara oleh mantan mertua, dan dipisahkan dari dia (itu another cerita drama sampai akhirnya dia bisa bertemu dengan anak kandungnya setelah sekian belas tahun).

Perjalanan hidup dia itu juga, yang membawa si Mbak untuk bekerja jauh dari anak dan suami, demi rejeki untuk membesarkan anaknya. Suatu ketika saat anaknya berusia sekolah, gue nanya, anaknya sekolah di mana. Barulah dia mengaku kalau anaknya bisu, jadi gak disekolahkan.  Karena penasaran, aku kejar terus, apakah tidak ada suara sama sekali (untuk bisu berarti ada kerusakan di pita suara). Dia bilang, bisa panggil "aah.. aah.." bila mau sesuatu.. Maka gue berkesimpulan, bahwa si anak bukannya bisu, tetapi punya masalah pendengaran. Karena tidak bisa mendengar, tidak pernah mencoba menirukan bunyi-bunyian di sekitarnya. Bisunya hanya sekunder. Setelah itu, gue bilang, anaknya harus sekolah di SLB.

Singkat cerita, anaknya sukses sekolah di SLB di kota terdekat dari kampung di Mbak. Saat ini si anak udah SMP kelas 2. Mbak punya cita-cita tinggi untuk anaknya. Karena di SLB diajarkan tata rambut dan tata busana, dia berandai-andai, suatu hari anaknya bisa bekerja di Surabaya. Mungkin punya usaha kecil-kecilan dengan ketrampilannya. Dia berharap anaknya bisa lulus SMA. Bahkan apabila mungkin kuliah. Sampai suatu malam minggu lalu. ada SMS dari kampung....

Si anak mengunci diri di kamar. Bersiap bunuh diri. Setelah sebelumnya dimarahin karena pergi ke pasar malam dengan seorang pria dan baru pulang lewat tengah malam. Pria yang baru dikenalnya sebulan lalu.

Si anak tidak mau berpisah dengan si pria. Minta kawin. Pada usia 18 tahun. Dengan pendidikan hanya SMP kelas 2. Dan prianya pun cuma lulusan SMP. Pekerja bangunan.

Dunia mimpi si Mbak langsung hancur berkeping-keping. Satu-satunya anak yang dia harapkan bisa vertical movement, naik kelas, membawa dia ke jajaran keluarga terhormat di kampungnya, nikah dengan pria yang dari kalangan sosial yang sama, yang rumahnya jauh lebih terpencil, yang bahkan hanya lulusan SMP.

Dan sekarang anaknya pun, setelah nikah siri (karena pihak pria belum mempersiapkan surat-surat untuk nikah resmi), tidak lagi meneruskan sekolahnya yang kurang beberapa bulan. Entah alasan apa. Adapun beberapa wartawan mengincar si Mbak, mengancam untuk menurunkan beritanya, Berita tentang anak gadis tuna rungu yang mau bunuh diri karena ngebet kawin dengan kekasih hatinya.

Ironis. Ironis....